
reportasependidikan.com – Saat diujung mautnya, para pemberontak telah mengepung rumah Utsman, yang sehari sebelumnya ia sedang berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia meminta kepada para pemberontak air tawar, namun tak setegukpun diterimanya.
Pemberontak malah berkata, “Di belakang rumahmu ada galian sumur!” Padahal galian tersebut merupakan tempat barang-barang berbau busuk.
Utsman pun tidak berbuka puasa pada hari itu. Waktu sahur pun tiba, beberapa orang tetangganya datang berkunjung. Nailah binti Farafishah sang istri Utsman yang setia mendapatkan secangkir air tawar dari tetangganya tersebut untuk diberikan kepada suami tercintanya.
Sang isti pun bergumam, “Ini air tawar yang segar untukmu.” Utsman memandang ke luar rumah, ternyata sudah terbit fajar. Ia berkata,”Hari ini aku puasa lagi.” Nailah bertanga,”Dari mana? (menanyakan perihal sahurnya) Aku tak melihat seorang pun mendatangimu dengan membawa makanan atau minuman.”
Utsman pun menjawab istrinya, “Aku melihat Rasulullah s.a.w memerlihatkan dirinya kepadaku dari atap rumah ini. Beliau membawa bejana berisi air. Beliau bersabda, ‘Minumlah, wahai Utsman!” Aku pun meminumnya hingga hilang dahagaku. Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Minumlah lagi!’. Aku minum lagi hingga perutku kenyang.
Kemudian beliau s.a.w bersabda kepadaku, ‘Para pemberontak itu pagi ini akan menyerangmu. Jika kau membunuh mereka, maka kau akan menggapai kesuksesan, tapi jika kau membiarkan mereka, maka kau akan berbuka puasa bersama kami.’” Para pemberontak pun datang pada pagi hari menyerang Utsman dan mereka pun membunuhnya. (Tarikh Damsyiq, 70/136)
Referensi:
Masyahir an-Nisa al-Muslimat/Keistimewaan 62 Muslimah Pilihan, karya Ali bin Nayif asy-Syuhud. Hal 235.