reportasependidikan.com – Setelah mengalahkan dua kandidat calon presiden lainnya, yakni Hong Joon-pyo dan Ahn Cheol-soo. Moon Jae-in telah terpilih sebagai Presiden Korea Selatan (Korsel) yang baru, pada pemilu yang digelar Selasa (09/05/2017) kemarin.
Seperti dilansir Republika, Moon memiliki sejarah yang cukup menarik. Ia merupakan anak pengungsi asal Korea Utara (Korut). Ketika Perang Korea meletus, kedua orangtuanya meninggalkan Korut dan pindah ke Korsel. Ketika dia lahir tahun 1953, keluarganya tinggal di pulau selatan Geoje.
Menurut otobiografinya, ayahnya bekerja di sebuah kamp tawanan perang. Sedangkan ibunya merupakan penjual telur di kota pelabuhan Busan.
Moon mulai menempuh pendidikan di sekolah hukum. Namun ia tak lama berada di sekolah tersebut. Moon ditangkap karena memimpin demonstrasi menentang peraturan otoriter Park Chung-hye, yang notabene ayah dari mantan presiden Korsel yang baru saja dimakzulkan karena kasus korupsi, Park Geun-hye. Ia dikirim ke penjara.
Moon yang telah bebas mendirikan sebuah firma hukum yang konsen pada isu-isu hak asasi manusia dan hak-hak sipil. Ia membuka firmanya di Busan bersama rekannya Roh Moo-hyun, yang belakangan juga menjadi presiden Korsel.
Mantan rekannya di firma tersebut, Seol Dong-il, mengingat Moon sebagai pribadi yang tekun dan kutu buku. Ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan pengadilan.
Seol juga kerap melihat Moon menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengar keluhan dari para kliennya.
“Ketika para pekerja meminta nasihat darinya, Moon biasanya duduk berjam-jam untuk mendengarkan mereka,” ungkap Seol seperti dilaporkan laman BBC.
Moon dan Roh Moo-hyun akhirnya menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan pro-demokrasi yang terjadi di Korsel. Gerakan ini menghasilkan pemilihan demokratis pertama Korsel. Pada momen ini, Roh memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Sedangkan Moon memilih untuk mengelola firmanya dan membantu warga sipil yang membutuhkan advokasi hukum.
Roh terpilih menjadi presiden Korsel. Kala itu Roh segera menjadikan Moon sebagai pembantu utamanya. Sejak saat itu Moon selalu dijuluki “Shadow of Roh” atau Bayangan Roh.
Kendati dipilih langsung oleh presiden untuk membantunya, Moon agak canggung dengan jabatannya.
Moon pernah menulis, “Saya selalu merasa tidak nyaman. Saya merasa pekerjaan itu (pembantu utama presiden) tidak cocok untuk saya, seolah-olah saya mengenakan pakaian yang tidak sesuai. Saya selalu berpikir ‘Saya akan kembali ke tempat saya, menjadi pengacara.”
Moon sempat mendapat tudingan miring dan kecaman keras. Pemerintahan saat itu dituduh telah berkonsultasi dengan Korut sebelum memutuskan abstain dalam sebuah voting PBB mengenai resolusi hak asasi manusia melawa Korut pada 2007. Moon membantah tuduhan tersebut.
Moon harus kehilangan kawan seperjuangannya, Roh Moo-hyun. Dia bunuh diri setelah penyidik korupsi menuduhnya menerima suap senilai 4,6 juta dolar AS.
Dalam memoar 2011 Moon menulis bahwa hidupnya sangat banyak dipengaruhi oleh Roh. “Dia benar-benar mendefinisikan hidup saya. Hidup saya akan banyak berubah jika saya tidak bertemu dengannya. Jadi dia adalah takdir saya,” tulis Moon dalam memoarnya.
Bertolak dari momen tersebut, Moon akhirnya memutuskan untuk mencoba mencalonkan diri sebagai presiden Korsel. Pencalonan perdananya terjadi pada 2012 lalu. Tapi perolehan suaranya masih kalah tipis dengan Park Geun-hye.
lebih dari dua dekade setelah dia memimpin Korsel menuju pemilihan demokratis perdananya, Moon terpilih sebagai presiden. Tugas berat telah menantinya, terutama berkaitan dengan ketegangan di Semenanjung Korea yang dipicu oleh proyek rudal nuklir Korut.
Dalam sebuah buku yang dirilis tahun ini, Moon mengungkapkan bahwa dia masih memimpikan untuk kembali ke kota asalnya di Korut, yakni di Hungnam.
“Ketika reunifikasi damai datang (Korsel-Korut), hal pertama yang ingin saya lakukan adalah membawa ibu saya yang telah berusia 90 tahun pergi ke kota asalnya (Hungnam),” tulis Moon dalam bukunya.
REPORTASE PENDIDIKAN -- UPT SPF SD Inpres Mallengkeri I kecamatan Tamalate kota Makassar melaksanakan pemantauan dan evaluasi Gerakan (Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah)…
REPORTASE PENDIDIKAN - Siswa kelas 6 UPT SPF SD Negeri Tamamaung I Makassar mengikuti Ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Gelombang 3. Kegiatan…
REPORTASE PENDIDIKAN – Dalam rangka menuju sekolah Adiwiyata Mandiri, UPT SPF SD Inpres Kassi-Kassi Makassar mengadakan Penandatanganan MoU (Kesepakatan Bersama) Adiwiyata…
REPORTASE PENDIDIKAN - Siswa kelas 6 UPT SPF SD Inpres Kassi-Kassi I Makassar mengikuti Ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Gelombang 3. Kegiatan…
REPORTASE PENDIDIKAN – Perpustakaan Ramah Anak UPT SPF SD Inpres Tamalanrea II Makassar hari ini diresmikan, jumat (24/4/2026). Perpustakaan dengan…
REPORTASE PENDIDIKAN – Kementerian Kehutanan memperingati Hari Bakti Rimbawan ke-43 dan Hari Bumi Sedunia 2026, dengan menggelar aksi penanaman bersama di…
This website uses cookies.