reportasependidikan.com – Masyarakat Jepang telah lama dikenal memiliki kedisiplinan yang tinggi dan tata krama yang baik. Kebiasaan tersebut tidak terbentuk secara instan. Melainkan melalui pendidikan khusus yang diterapkan sejak usia dini.
Di antara metode pendidikan tersebut, terdapat sejumlah poin unik yang patut dicermati. Yuk, tengok!
Berbeda dengan kebanyakan taman kanak-kanak di tanah air, sekolah usia dini di Jepang tidak mewajibkan membaca dan menulis. Anak-anak terlebih dahulu dilatih moralnya sekaligus dikembangkan rasa tanggung jawabnya.
Mereka banyak diajarkan mengenai seni, dongeng, cerita, menyanyi, dan tentu saja bermain permainan tradisional. Tidak ada sistem kenaikan kelas. Mereka tidak mesti berkompetisi dalam hal akademik di usia yang masih belia.
Karena tidak dituntut bisa calistung, anak-anak di sana lebih banyak menggambar, bernyanyi, serta kegiatan lain yang menumbuhkan kreativitas. Tidak heran, dinding sekolah biasanya dipenuhi karya-karya yang mereka buat sendiri.
Anak-anak juga kerap diajak tur untuk melatih kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar, misalnya ke taman bermain, museum, atau kebun binatang.
Di sekolah, guru atau sensei tidak berperan sebagai orang yang memberikan materi. Mereka mesti berposisi sebagai orang dewasa yang mengarahkan anak-anak. Banyak memberikan semangat, selalu ceria, lincah, serta menjadi teman sepermainan.
Hampir tidak ada guru yang mengenakan pakaian formal. Justru mereka memakai baju olahraga demi memudahkan gerak saat mengawasi peserta didiknya.
Pemerintah setempat membuat kebijakan agar setiap anak bersekolah tidak jauh dari lokasi tempat tinggalnya. Menariknya, tidak ada sekolah favorit di Jepang. Setiap sekolah memiliki kualitas yang sama. Orang tua jadi tidak perlu khawatir dan bisa melatih kemandirian anak untuk bisa pulang atau pergi ke sekolah sendiri.
Pendidikan tidak melulu tentang sekolah. Bahkan pendidikan justru harus dimulai dari keluarga. Itulah yang dilakukan para ibu di Jepang.
Sejak balita, anak-anak sudah dilatih untuk makan dengan tangan sendiri. Para ibu akan memasak hidangan berbentuk lucu yang membangkitkan ketertarikan anak. Ukurannya pun kecil agar mereka mudah mengambilnya dengan sumpit. Bila sudah terbiasa, perlahan mereka akan diajari memasak.
Banyak kegiatan dilakukan demi melatih kemandirian, termasuk merapikan tempat tidur di pagi hari dan membereskan mainan.
(Sumber: idntimes.com)
REPORTASE PENDIDIKAN - Siswa UPT SPF SD Inpres Layang Tua II kecamatan Bontoala kota Makassar menggelar kampanye penghematan air dan energi serta…
REPORTASE PENDIDIKAN - Penarikan Mahasiswa PPL Universitas Bosowa Makassar setelah kurang lebih dua bulan menjalani praktek mengajar dan tugas keprofesian lainnya…
REPORTASE PENDIDIKAN - Dalam rangka mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik selama satu semester, UPT SPF SD Inpres Sambung Jawa III kecamatan…
REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Inpres Tello Baru I/1 kecamatan Panakkukang kota Makassar menggelar Sumatif Akhir Semester (SAS) Genap tahun…
REPORTASE PENDIDIKAN - Dalam rangka mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik selama satu semester, sekolah telah melaksanakan Ujian Sumatif Akhir Semester (SAS)…
REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Negeri Tamamaung I kecamatan Panakkukang kota Makassar menggelar pengumuman dan pelepasan siswa kelas 6 yang…
This website uses cookies.