reportasependidikan.com – Ketika Makkah sudah dirasa tidak aman lagi karena banyaknya umat Muslim yang senantiasa mendapatkan siksaan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy maka Madinah adalah menjadi tempat hijrah yang paling aman di antara daerah-daerah lainnya. Madinah dengan rela membukakan pintunya menerima Islam setelah Islam masuk ke Madinah dibawa oleh Mush’ab bin Umair.
Cahaya Islam telah menyinari kota Madinah. Perihal keagungan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka telah mendengarnya. Iman pun terpatri dalam dalam hati. Kerinduan kepada Rasulullah sudah tak terbendung lagi. Seolah tak sabar menantikan kedatangan kekasih, mereka berbondong-bondong turun ke jalan di depan rumah mereka masing-masing. Yang dinanti pun tiba. Dari kejauhan, terlihatlah Rasulullah dan beberapa sahabat. Penduduk Madinah sangat antusias menyambut dengan penuh keharuan.
“Wahai Rasulullah, tinggallah di rumahku. Turunkanlah barang-barangmu. Kami akan menjagamu,” teriak hamper seluruh penduduk Madinah mengungkapkan harap. Merupakan kehormatan bagi penduduk Madinah jika Rasulullah berkenan tinggal di rumah mereka. Karena tidak ingin melukai hati penduduk Madinah, Rasulullah memilih jalan yang bijak.
Beliau berkata “Biarlah unta ini berjalan sesukanya. Di mana dia berhenti, di situlah aku akan tinggal,” kata beliau. Unta itu pun mulai berjalan. Penduduk Madinah memandangnya dengan harap-harap cemas. Hati mereka sedih manakala unta itu melewati rumah mereka.
Tiba-tiba, unta Rasulullah berhenti di depan rumah seorang penduduk yang bernama Abu Ayyub al-Anshari. “Wahai Rasulullah, itu rumahku. Artinya engkau akan tinggal bersama kami,” serunya bahagia.
Namun, seketika wajah Abu Ayyub berubah muram. Unta Rasulullah ternyata berdiri lagi dan melangkah meninggalkan halaman rumahnya. Rasulullah melepaskan tali kekang untanya. Beliau membebaskan unta itu berjalan kemana dia suka. “Aduhai, mengapa engkau berlalu dari rumahku, wahai unta.” keluh Abu Ayub sedih.
Hal aneh pun terjadi. Setelah berjalan mengelilingi beberapa rumah, unta itu kembali ke halaman rumah Abu Ayub, lalu duduk di sana. Kebahagiaannya seketika itu kembali. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Engkau memberiku kehormatan dengan menjadi tuan rumah bagi Rasul-Mu yang mulia,” serunya bahagia. la segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang beliau. Akhirnya, Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayub al-Anshari. []
Sumber: Ummu Rumaisha. Februari, 2015. 77 Cahaya Cinta di Madinah. Al-Qudwah Publishing.
REPORTASE PENDIDIKAN — Suasana penuh ketenangan dan kekhusyukan menyelimuti lingkungan UPTD SPF SD Negeri Kompleks IKIP I Makassar, Jumat pagi. Seluruh…
REPORTASE PENDIDIKAN — Sebagai bagian dari pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter religius, seluruh siswa-siswi UPTD SPF SD Inpres Pannampu II kecamatan…
REPORTASE PENDIDIKAN – UPTD SPF SD Negeri Tamamaung Makassar dalam suasana penuh khidmat dan kehangatan melangsungkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,…
REPORTASE PENDIDIKAN - Peringatan maulid nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 12 Hijriyah juga digelar di UPTD SPF SD Inpres Tamamaung III…
REPORTASE PENDIDIKAN – Seluruh warga UPTD SPF SD Inpres Buttatianang II Makassar berkumpul dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan untuk memperingati…
REPORTASE PENDIDIKAN – UPTD SPF SD Inpres Bertingkat Layang kecamatan Bontoala kota Makassar turut mengikuti penilaian Lomba Unit Kesehatan Sekolah (UKS)…
This website uses cookies.