reportasependidikan.com – Madrasah Ibtidaiyah Darul Furqan atau yang biasa disebut Sekolah Tapal Batas di Dusun Sei Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara menjadi tempat istimewa bagi anak-anak TKI di Malaysia.
Bagaimana tidak, di sekolah ini mereka bisa merasakan pendidikan layaknya anak seusia mereka. Oh ya, Sekolah Tapal Batas yang sekarang, kondisinya jauh lebih baik dibanding sekolah lama yang berada di kolong rumah warga. Lokasi sekolah baru jaraknya sekitar 4 Km dari sekolah lama.
Tetap semangat belajar dalam kelas yang serba apa adanya
Salah satu siswa yang merasakan berkah keberadaan sekolah ini adalah Hamidah. Gadis asal Pinrang, Sulawesi Selatan ini cuma punya satu kaki. Saat kecil, dia mengalami kecelakaan di kampungnya yang mengakibatkan kakinya harus diamputasi. Meski menggunakan tongkat, siswi kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah ini tetap bersemangat mengikuti pelajaran.
Saban hari Hamidah selalu diantar ibunya, berjalan kaki menelusuri jalan rusak dan berbukit untuk sampai ke sekolah. Perlu waktu sekitar 2 jam dari rumahnya yang berjarak 4 Km. Artinya, setiap hari Hamidah harus berjalan kaki 8 Km.
Rada pemalu sih
Hamidah berangkat pukul 05.00 dan sampai sekolah pukul 07.00. Sang ibu kembali menjemputnya sepulang sekolah. Ayah Hamidah adalah buruh di perkebunan kakau.
Tapi saat ini Hamidah sedikit lega. Sebab, Suraidah, pendiri sekolah tapal batas sejak tahun lalu meminta Hamidah tinggal di pondok madrasah gratis. Jadi dia pulang sebulan sekali.
Suraidah (kanan), pendiri Sekolah Tapal Batas yang selalu memperhatikan para murid, termasuk Hamidah
“Senang bisa sekolah di sini. Banyak teman dan saya sekarang bisa mengaji,” katanya kepada Brilio.net saat ditemui di sekolah tapal batas akhir pekan lalu.
Walaupun dirinya berbeda dengan teman-temannya, Hamidah tak pernah sungkan bergaul dengan teman-temannya. Nggak pernah ada yang mengejeknya apalagi sampai nge-bully. Inilah yang membuat Hamidah betah di sekolah.
Sang ibu (kiri) yang selalu setia mengantar Hamidah ke sekolah
Hamidah juga tergolong murid yang cerdas. Buktinya, saat Manager Legal & Relation PT Pertamina EP Asset 5 Yosi Ardilla yang didampingi Wakil Gubernur Kalimantan Utara Udin Hianggio berkunjung pada perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2017 lalu, Hamidah sangat cepat menjawab pertanyaan matematika. “Sembilan!” jawab Hamidah dengan lantang hasil 63 bagi 7.
Ya, Hamidah adalah satu dari ratusan anak-anak tapal batas yang punya semangat belajar di tengah keterbatasan. Dia mampu menembus batas.
(Sumber: brilio.net)
REPORTASE PENDIDIKAN — Suasana penuh ketenangan dan kekhusyukan menyelimuti lingkungan UPTD SPF SD Negeri Kompleks IKIP I Makassar, Jumat pagi. Seluruh…
REPORTASE PENDIDIKAN — Sebagai bagian dari pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter religius, seluruh siswa-siswi UPTD SPF SD Inpres Pannampu II kecamatan…
REPORTASE PENDIDIKAN – UPTD SPF SD Negeri Tamamaung Makassar dalam suasana penuh khidmat dan kehangatan melangsungkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,…
REPORTASE PENDIDIKAN - Peringatan maulid nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 12 Hijriyah juga digelar di UPTD SPF SD Inpres Tamamaung III…
REPORTASE PENDIDIKAN – Seluruh warga UPTD SPF SD Inpres Buttatianang II Makassar berkumpul dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan untuk memperingati…
REPORTASE PENDIDIKAN – UPTD SPF SD Inpres Bertingkat Layang kecamatan Bontoala kota Makassar turut mengikuti penilaian Lomba Unit Kesehatan Sekolah (UKS)…
This website uses cookies.