
reportasependidikan.com – Di suatu malam yang sepi. Suasana sekeliling hening. Sesekali terdengar lolongan serigala di padang pasir yang tandus. Ketika itu terlihat dua sosok tubuh manusia dalam remang-remang sedang berjalan menuju Madinah. Dua sosok manusia itu ialah khlaifah Umar bin Khathab dan sahabatnya Aslam.
“Hai Aslam!” ujar Umar bin Khathab.
“Hmmm…” jawab Aslam dengan sisa tenaganya, ia amat lelah.
“Itu desa Hurrah sudah dekat. Sebentar lagi kita akan sampai ke Madinah. Tetapi karena kita terlalu letih, bagaimana kalau kita beristirahat sejenak terlebih dahulu di kampung itu sebelum melanjutkan perjalanan?” tanya Umar bin Khathab meminta persetujuan kepada Alsam.
“Baiklah, ya Amirul Mukminin!” Jawab Aslam.
Umar bin Khathab merupakan Khalifah kedua setelah Khalifah Abu Bakar. Umar bin Khathab merupakan Khalifah Rasulullah yang pertama kali memakai gelar Amirul Mukminin.
Walaupun, mereka terus berjalan di malam yang sunyi itu. Dalam perjalanan mereka melihat setitik sinar memancar di udara malam. Semakin lama semakin dekat dengan sinar api yang berkelip-kelip itu. Cahaya api itu seolah-olah hilang karena diembus angin malam Gurun Sahara.
Semakin dekat mereka ke tempat itu semakin jelaslah oleh mereka apa yang diterangi oleh lampu dari minyak zaitun itu. Mereka melihat seorang wanita berada di depan tungku. Di atas tungku itu tergantung sebuah periuk dan sebelah kanan tangan wanita itu sibuk mengaduk-aduk isi periuk itu. Sementara sebelah kiri tangan wanita itu sibuk membelai-belai anaknya yang terlihat begitu lemah.
Terdengar juga oleh mereka isak tangis anak-anak. Mereka duga tangisan itu bukanlah tangisan satu orang anak saja. Sekurang-kurangnya dua atau tiga anak.
Keadaan ini semakin menarik perhatian mereka. Umar bin Khathab memberi isyarat kepada Aslam agar mengahampiri tempat itu. Dengan langkah yang amat pelan mereka pergi menuju tempat itu tanpa disadari oleh wanita yang berada di samping cahaya api dan anaknya yang sedang menangis itu.
Kini semakin jelas ada wanita yang sedang menghidupkan api dan sesekali mengaduk isi periuk yang menggantung di atas tungku.
Di samping wanita itu terdapat sebuah tikar. Atas tikar itu terdapat dua anak yang sedang menangis sambil merengek, “Bu… la..par!” katanya dengan suara lemah.
“Tunggu ya Nak, sebentar lagi makanan ini matang!” kata wanita tadi kepada anaknya sambil memeluknya.
Melihat keadaan yang menyayat hati itu. Khalifah Umar bin Khathab memberi isyarat kepada Aslam agar bersama-sama memasuki gubug reot nan kumuh itu. Khalifah Umar hanya memakai pakaian musafir biasa.
“Assalamu’alaikum!” sapa Khalifah Umar.
“Wa’alaikum salam!” jawab wanita tersebut sambil menoleh keluar gubug. Suasana di luar gubug tersebut gelap gulita tanpa penerangan sama sekali. Wanita itu tahu bahwa yang mengucapkan salam kepadanya adalah laki-laki.
“Boleh kami masuk?” tanya Khalifah Umar.
“Jika kamu bermaksud baik, silahkan masuk. Tetapi kalau berniat jahat, silahkan pergi dari sini!” ujar wanita itu dengan tegas.
“Kami adalah orang baik-baik yang kemalaman di perjalanan. Kami hanya ingin menumpang istirahat sebentar!” sahut Khalifah Umar pula.
“Kalau benar apa yang kau katakan, silahkan masuk, semoga Allah senantiasa selalu memberikan perlindungan kepada kita!” ujar wanita itu kemudian.
Setelah mendengar jawaban wanita itu, masuklah Khalifah Umar dan diikuti Aslam. Dan mereka duduk di atas tikar.
Keadaan hening seketika. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Sementara itu Khalifah Umar memperhatikan wanita itu. Sibuk sekali kelihatannya.
Melihat abu yang sudah menumpuk banyak di periuk itu, Khalifah Umar dapat menebak bahwa wanita itu telah cukup lama memasak.
“Tetapi, kenapa masakan itu belum juga diangkat?” gumam Khalifah Umar dalam hati.
“Kenapa masakan ibu lama sekali belum matang?” tanya Khalifah Umar.
“Entahlah Tuan!” jawab sang ibu itu dengan dengan nada yang kurang senang atas pertanyaan yang diajukan oleh Khalifah. Boleh jadi ia menyangka bahwa tamunya ini menginginkan masakannya.
“Tetapi anak-anak ini kelihatannya sudah lapar sekali.” Ujar Khalifah Umar.
“Tepat sekali dugaan tua itu. Anak-anakku memang sedang kelaparan, tetapi…” suaranya terhenti sampai di situ.
“Tetapi kenapa?” tanya Khalifah Umar bersungguh-sungguh.
Wanita itu hanya diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan Khalifah Umar, sementara sebelah tangannya tetap mengaduk-aduk ini periuk di hadapannya.
Karena didesak dengan perasaan ingin tahu yang amat sangat, Khalifah Umar segera bangkit dari duduknya dan mengambil sendok dari tangan wanita itu. Khalifah Umar sangat terkejut karena isi periuk itu amat keras seperti batu.
“Bahan masakan apa yang sekeras batu ini?” pikir Khalifah Umar.
“Kenapa isi periuk ini keras seperti batu?” ujar Khalifah Umar dengan suara pelan agar pertanyaan itu tidak didengar oleh anak-anak wanita itu.
“Memang benar dugaan tuan, yang ada dalam periuk itu adalah sebuah batu!” jawab wanita itu.
“Ya! Batu!” tegas wanita itu lagi, sambil membelai-belai anaknya yang sedang terkulai lemah.
Dan akhirnya, wanita itu menjelaskan kepada Khalifah Umar dan Aslam bahwa mereka sudah tidak memiliki bahan makanan lagi. Jadi untuk menghibur hati anak-anaknya yang sedang kelaparan, direbuslah batu itu. Dengan begitu anak-anaknya menduga ibunya sedang memasak makanan untuk mereka. Sehingga mereka menunggu, menunggu, dan menungggu.
“Menunggu apa?” tanya Khalifah Umar.
“Sebenarnya bukan mereka yang menunggu. Tapi sayalah yang menunggu supaya mereka tertidur. Bila mereka tertidur, tentu mereka tidak akan meminta makan lagi.” Jelas wanita itu.
Khalifah Umar menoleh ke arah Aslam, yang termenung. Wanita itu melirik ke arah anaknya yang kurus-kurus. Dua orang telah tertidur, tinggal satu orang lagi yang sedang menunggu masakkan ibunya matang.
Ketika itu, Khalifah Umar dan Aslam merasa dirinya bagai bayang-bayang. Badannya panas-dingin tidak karuan. Bukan karena mereka demam, namun jiwa mereka turut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh wanita dan anak-anaknya itu.
“Persediaan makanan ibu sudah habis? Suami ibu ke mana?” Tanya Khalifah dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Wanita itu hanya terdiam, tak mejawab apa-apa. Sementara pipinya mulai dibasahi air mata yang keluar tanpa disadari.
“Ayah anak-anak itu telah gugur sebagai mujahid sewaktu ikut serta dalam perang Sirya beberapa bulan lalu. Kini tinggallah kami di gubung kumuh seperti yang tuan-tuan lihat. Janda tiga anak. Saya harus berusaha mencari nafkah yang halal. Namun, rezeki kami kurang sekarang-sekarang ini.” Jelas wanita itu dengan isak tangis.
“Mengapa ibu tidak melaporkan hal ini kepada Khalifah Umar bin Khathab?” tanya Khalifah Umar memancing pendapat wanita itu.
“Hmmm Khalifah!” katanya sambil mencibirkan bibirnya.
“Suami saya dikirim kemedam peperangan untuk menegakkan kebenaran dan kesucian Islam, kemudian ia gugur sebagai syahid. Sedangkan Khalifah Umar yang katanya bijaksana, ternyata tidak pernah memedulikan nasib kami. Bahkan kami tidak pernah menerima bantuan apa pun darinya. Jangankan bantuan menengok saja tidak pernah!” ujar wanita itu kesal.
“Pernah ibu sendiri mencoba datang menemui Khalifah dan menceritakan kadaan ibu kepadanya?” tanya Khalifah Umar lagi.
“Apa guna saya pergi ke sana?” tukas wanita itu dengan suara meninggi.
“Bukankah Khalifah itu telah diberi mata oleh Allah untuk melihat dan telinga untuk menedengar. Apakah ia tidak menggunakan kedua nikmat Allah untuk melihat dan mendengar nasib hambanya di tengah padang pasir yang gersang ini?” ujarnya sambil bangkit dari duduknya untuk meletakkan anaknya yang telah tidur di pangkuannya di atas tikar using.
Khalifah Umar tersedak mendengar kata-kata wanita itu. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika itu. Segala kesedihan dan penyesalan ditutupinya hingga tidak sedikit pun tampak di wajahnya.
“Tahukah tuan?” ujar wanita itu mengemukakan kekesalan hatinya.
“Khalifah itu sudah kaya, sudah senang, memiliki rumah yang besar dan bagus, makan dan minuman yang tidak pernah kekurangan. Karena itu, untuk apa ia menengok fakir miskin di perkampungan kecil ini. Walaupun janda dari pejuangan yang gugur di medan jihad!” tambah wanita itu.
Hati Khalifah semakin tersayat medengar kata-kata wanita itu. Semua yang diucapkannya adalah perasaan yang telah lama terpendam dalam hatinya. Kini suara hatinya tekah dikeluarkan. Wanita itu teramat kesal.
“Kenapa ibu juga tidak menyampaikan ini kepada salah seorang dari pegawai-pegawai khalifah?” tanya Khalifah lagi.
“Penah sekali, tapi hanya sekali saja!” jawab wanita itu.
“Ada tanggapan?” tanya Khalifah.
“Mungkin karena saya orang desa, pegawai itu seakan-akan telah menceritakan keadaan saya kepada khalifah. Hasilnya seperti yang tuan lihat sekarang ini!’ ujar wanita itu memelas.
“Menurut pengatahuan saya, Khalifah Umat tidak pernah membedakan orang desa atau kota. Miskin atau kaya. Semua sama saja.” Ujar Khalifah Umar meyakinkan wanita itu.
“Itu pendapat tuan, tapi tidak bagi saya. Faktanya hingga kini saya belum pernah menerima bantuan dari khalifah yang tuan katakana baik dan adil itu. Semua ini adalah bohong belaka! Terkutuklah khalifah itu dan saya doakan semoga ia masuk neraka karena dosanya. Dosa yang tidak memperhatikan rakyatnya yang miskin seprti saya!” ujar wanita itu.
Khlaifah Umar hanya terdiam saja mendengar kata-kata wanita itu. Mendengar kepedihan wanita itu. Khalifah Umar terharu.
“Tunggu sebentar Bu, kami akan berusaha untuk mencarikan sedikit bahan makanan untuk ibu dan anak-anak!” ujar Khalifah sambil membelai kepala salah seorang anak wanita itu.
Wanita itu mengangguk. Lalu Khalifah Umar keluar bersama Aslam menuju ke Madinah segera. []
Referensi: Cerita Teladan Para Sahabat/Komarudin Ibnu Mikam/Dian Rakyat/2004