Jejak Kejayaan Suku Bugis di Singapura (Part II)

reportasependidikan.com – Ketika Singapura jatuh ke tangan Inggris, orang-orang Bugis diyakini sudah melakukan perdagangan di Singapura.  Hingga kini kawasan Kallang masih ada. Bahkan kawasan yang dulunya menjadi perkampungan orang-orang Bugis itu, kini telah menjelma menjadi salah satu pusat bisnis Singapura.

Dulu, Sungai Kallang yang bermuara ke Laut China Selatan merupakan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan dan saudagar Bugis. Tak jauh dari pinggir sungai besar itu, terdapat perkampungan orang-orang Bugis.

Sayang, saat ini perkampungan orang Bugis (Bugis Village) sudah tidak ada. Kawasan itu sekarang menjadi sebuah taman di tepi Sungai Kallang. Namun pemerintah Singapura tetap mengabadikan tempat tersebut dengan memberi nama Bugis Village.

Di museum Kampung Melayu ini, dipajang beberapa foto sultan keturunan Bugis. Fakta ini menunjukkan bahwa saudagar Bugis dan Melayu sudah berinteraksi sejak lama di Singapura. Mereka tak hanya berinteraksi dalam perniagaan, tapi juga dalam kawin-mawin.

Seiring perkembangan Singapura, Kampung Melayu pun tergusur. Kendati demikian, pemerintah Singapura membangunkan tempat sejenis museum. Inilah kemudian disebut “Malay Village”. Di dalam kawasan ini terdiri beberapa rumah adat Melayu. Ada juga aula dan miniatur melayu, seperti patung gerobak yang ditarik sapi.

Berbeda dengan etnik Bugis, pemerintah Singapura tidak membangun khusus museum untuk Bugis. Yang ada hanyalah Malay Heritage Museum (Museum Warisan Melayu). Di museum ini selain dipajang barang-barang khas Melayu, juga banyak koleksi dan sejarah kedatangan Bugis di Singapura.

Bahkan tak jauh dari Bugis Village, berkembang pesat menjadi kawasan Bisnis Singapura. Karena dulunya adalah perkampungan Bugis, sebagai bentuk penghargaan pemerintah Singapura tetap mengabadikan nama Bugis.  Tak jauh dari Sungai Kallang Bugis diabadikan menjadi nama jalan, “Kampong Bugis Street”. Tak jauh dari  situ terdapat  distrik Bugis. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan perdagangan terkenal di Singapura.

Baca juga:  Kisah Ts’ai Lun, Penemu Kertas Yang Terlupakan

Di kawasan Bugis ini berdiri pusat perbelanjaan terkenal seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street. Di kawasan ini juga terdapat masjid terbesar di Singapura, “Sultan Mosque”, yang merupakan masjid peninggalan pengusaha Bugis di zaman itu. Konon untuk membangun masjid itu, orang-orang Bugis mengumpulkan uang dan emas, bahkan mereka menjual tanahnya di kawasan Geylang, yang dulunya sebagian besar adalah milik orang orang Bugis.

Dari kampung-kampung Bugis ini lahir saudagar-saudagar kaya, yang kemudian berfungsi sebagai penyedia modal untuk para nelayan dan pedagang-pedagang yang mengarungi laut nusantara. Saudagar tidak menerapkan sistem upah, tapi sistem bagi hasil kepada anak buahnya (diatur dalam kesepakatan saudagar di bawah pimpinan Amanna Gappa).

Bandar Singapura adalah tempat berkembangnya saudagar-saudagar Bugis dan melakukan temu niaga dengan saudagar-saudagar China, Saudagar India, dan Arab.

Portugis yang mencari jalan ke timur, kemudian menaklukan Malaka, memotong jalan dagang Saudagar India dan Arab, mencoba menerobos ke Jawa dan mendirikan loji di Sunda Kelapa, memby-pass Singapura.

Mulailah sejarah penetrasi Eropa ke Asia Tenggara sebagai wilayah penghasil perikanan dan rempah-rempah. Link antara Saudagar Bugis dan Saudagar Arab dan India Mulai terputus, transaksi saudagar Bugis mulai menurun dan perlahan-lahan didikte oleh pedagang Barat.

(Sumber: jurnalite.com)

You cannot copy content of this page