"data-auto-format="rspv" data-full-width>
Categories: BerandaRagam

Stunting Mempengaruhi Perekonomian Suatu Negara

"data-auto-format="rspv" data-full-width>
"data-auto-format="rspv" data-full-width>
A. Aura Amalia Dwi Nanda, mahasiswa jurusan Administrasi Kesehatan fakultas Imu Keolahragaan dan Kesehatan UNM angkatan 2022

Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan.

Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025 (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2018). Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Saat ini, jumlah anak balita di Indonesia sekitar 22,4 juta. Setiap tahun, setidaknya ada 5,2 juta perempuan di Indonesia yang hamil. Dari mereka, rata-rata bayi yang lahir setiap tahun berjumlah 4,9 juta anak.

Tiga dari sepuluh balita di Indonesia mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Tak hanya bertubuh pendek, efek domino pada balita yang mengalami stunting lebih kompleks.

Selain persoalan fisik dan perkembangan kognitif, balita stunting juga berpotensi menghadapi persoalan lain di luar itu ( Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Negara Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain masuk dalam grup yang mempunyai prevalensi cukup tinggi yaitu 30%-39%. Negara Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dengan jumlah anak pendek terbanyak. Posisi Indonesia hanya lebih baik dari India, Tiongkok, Nigeria dan Pakistan (Trihonoetal, 2015).

Secara nasional, besar potensi ekonomi yang hilang akibat Kekurangan Energi Protein (KEP) yang memengaruhi pertumbuhan balita adalah 0,27-1,21% dari PDB Indonesia atau nilainya antara 4,24 hingga 19,08 triliun rupiah per tahun (Aries & Martianto 2006).

Lantas apa kaitannya stunting dengan perekonomian negara? Mari kita bahas.

Penurunan kognitif, rendahnya imun yang mengakibatkan risiko tinggi terkena penyakit infeksi, kelebihan berat badan sampai dengan obesitas, serta PTM. Semua ini memengaruhi jenis pekerjaan yang akan diperoleh, penurunan produktivitas ketika bekerja, dan gaji/pendapatan yang diterima.

Hasil estimasi potensi kerugian ekonomi akibat stunting ini merupakan hasil kerugian ekonomi pada balita stunting dengan asumsi tidak adanya perbaikan gizi.

Besar rata-rata potensi kerugian ekonomi pada balita stunting di 32 provinsi di Indonesia tahun 2013 yaitu Rp 96 miliar-Rp 430 miliar, jika nilai ini dilihat dari persentase terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) maka besar potensi kerugian pada penurunan produktivitas 2% dan 9% yaitu sekitar 0,15-0,67% dari rata-rata Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.

Dalam studi yang dilakukan Sebastian Mary pada tahun 2018, dilakukan observasi pada 74 negara berkembang pada tahun 1984 sampai 2014. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan turunnya GDP (Gross Domestic Products).

Kepala BAPPENAS pada tahun 2018 menyatakan bahwa dalam jangka panjang, stunting dapat menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun.

Melihat urgensi penanganan stunting bagi kemajuan negara, pada tahun 2019, sebanyak 100 kabupaten/kota menjadi prioritas pemerintah untuk intervensi stunting.

Siklus ini dapat terus berlanjut hingga generasi berikutnya, jika masalah stunting pada balita ini tidak segera ditangani.

Penanganan dengan merencanakan program yang tepat sasaran, dapat membantu pembangunan negara dan mengurangi kemiskinan karena rendahnya pendapatan akibat masalah stunting.

Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu mengarahkan masyarakat untuk ikut aktif dalam mengawal gizi ibu dan bayi agar dapat menekan stunting.

Recent Posts

SDN KIP Bara-Baraya I Sukses Gelar TKA, Diikuti 30 Siswa

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SDN KIP Bara-Baraya I Makassar hari ini, Senin 20 April 2026, melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA)…

1 hari ago

‘Sitongka Cerdas’ Komunitas Orangtua Siswa Resmi Terbentuk di SDI Mallengkeri I

REPORTASE PENDIDIKAN- UPT SPF  SD Inpres Mellengkeri I kecamatan Tamalate kota Makassar membentuk komunitas orang tua siswa dengan nama SITONGKA CERDAS. Komunitas…

4 hari ago

SDI Perumnas IV Bersiap Menuju Adiwiyata Nasional

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Inpres Perumnas IV kecamatan Rapoocini kota Makassar bersiap menuju Adiwiyata Nasional tahun 2026. Persiapan menuju…

5 hari ago

Kepsek SDI Kampus IKIP Ikuti Bimtek Penyusunan Softfile dan Aplikasi SIDIA

REPORTASE PENDIDIKAN - Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan softfile dan penggunaan aplikasi SIDIA dalam Forum Adiwiyata sekolah digelar di Aula SMK Telkom…

5 hari ago

Bimtek Penyusunan Softfile dan Penggunaan Aplikasi SIDIA Diikuti Ratusan Kepsek di Makassar

REPORTASE PENDIDIKAN - Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan softfile dan penggunaan aplikasi SIDIA dalam Forum Adiwiyata sekolah digelar di Aula SMK Telkom…

5 hari ago

SDI Layang Tua I Gelar Bimtek Menuju Adiwiyata Nasional

REPORTASE PENDIDIKAN-- UPT SPF SD Inpres Layang Tua I kecamatan Bontoala kota Makassar menggelar bimbingan teknik (bimtek) Calon Sekolah Adiwiyata Nasional sekaligus…

6 hari ago
"data-auto-format="rspv" data-full-width>

This website uses cookies.