"data-auto-format="rspv" data-full-width>
Categories: Inspiratif

Oh, Ibuku

"data-auto-format="rspv" data-full-width>
"data-auto-format="rspv" data-full-width>
gambar : google

reportasependidikan.com – Ibuku luar biasa, dia sangat berbeda denganku. Setiap jumpa dan kemudian berpisah, ibuku selalu berkata: “Maaf, Ibu tidak bisa memberi apa-apa kecuali doa.”

Ucapan ini terkadang menamparku. Ibuku yang sudah begitu banyak memberi pengorbanan, perhatian dan rasa cinta yang tiada tara masih berkata, “Maaf, Ibu tidak bisa memberi apa-apa.”

Sementara aku, hanya cium tangan, memberi rupiah yang tak lebih dari 10 persen penghasilanku sudah merasa menjadi anak yang berbakti.

Ibuku tak merasa banyak berbuat kepadaku, padahal kebaikannya kepadaku amat sulit untuk dihitung. Sementara aku sudah merasa menjadi anak yang taat dan hebat hanya dengan sekelumit kebaikanku. Oh, betapa mulianya ibuku dan betapa naifnya diriku.

Bila aku sakit, ibuku rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dan menyeberangi lautan hanya sekadar ingin menciumku.

Sementara bila ibuku sakit, aku hanya mengangkat telepon untuk berkata, “Maaf, aku tak bisa menemani Ibu.”

Oh betapa bedanya aku dengan ibuku. Ia segera meninggalkan semua kesibukannya hanya untuk jumpa dengan anaknya.

Sementara aku selalu beralasan sibuk untuk bisa menemaninya saat ia berbaring lemah karena rasa sakitnya.

Saat aku sekolah dan kuliah, ibuku rela datang meminjam utang walau mungkin mendapat cacian dari yang punya uang.

Tetapi kini aku tega-teganya berkata, “Maaf ibu, saya belum bisa banyak membantu, aku masih harus mengembangkan bisnis dan keluargaku.”

Saat seperti ini ibuku hanya berkata, “Ibu bahagia bila melihat kamu dan keluargamu bahagia.”

Oh ibu, aku semakin malu.

Tadi malam, sebelum tidur aku menangis, betapa baktiku kepada ibuku belum seberapa.

Dalam gelisahku, kukirimkan doa untuk ibuku, “Yaa Allah jaga ibuku, muliakan ibuku, beri ia tempat terhormat di dunia dan berikan ia mahkota terindah di surga-Mu kelak.”

Ah, betapa hinanya aku, karena hanya bisa menangis dan mengirimkan doa di usiaku yang semakin tua.

Itu bedaku dengan ibuku. Apa bedamu dengan ibumu? []

Artikel ini beredar viral di media sosial dan blog. Kami kesulitan menyertakan sumber pertama.

Recent Posts

Siswa SDI Layang Tua II Kampanye Penghematan Air, Energi dan Pengelolan Sampah

REPORTASE PENDIDIKAN - Siswa UPT SPF SD Inpres Layang Tua II kecamatan Bontoala kota Makassar menggelar kampanye penghematan air dan energi serta…

19 jam ago

Penarikan Mahasiswa PPL Universitas Bosowa di SDN Mattoanging II

REPORTASE PENDIDIKAN - Penarikan Mahasiswa PPL Universitas Bosowa Makassar setelah kurang lebih dua bulan menjalani praktek mengajar dan tugas keprofesian lainnya…

24 jam ago

SDI Sambung Jawa III Laksanakan Sumatif Akhir Semester

REPORTASE PENDIDIKAN - Dalam rangka mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik selama satu semester, UPT SPF SD Inpres Sambung Jawa III kecamatan…

2 hari ago

Siswa SDI Tello Baru I/1 Ikuti Sumatif Akhir Semester

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Inpres Tello Baru I/1 kecamatan Panakkukang kota Makassar menggelar Sumatif Akhir Semester (SAS) Genap tahun…

2 hari ago

Siswa SDI Toddopuli I Ikuti Sumatif Akhir Semester

REPORTASE PENDIDIKAN - Dalam rangka mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik selama satu semester, sekolah telah melaksanakan Ujian Sumatif Akhir Semester (SAS)…

4 hari ago

Pelepasan Siswa Kelas 6 SDN Tamamaung I

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Negeri Tamamaung I kecamatan Panakkukang kota Makassar menggelar pengumuman dan pelepasan siswa kelas 6 yang…

4 hari ago
"data-auto-format="rspv" data-full-width>

This website uses cookies.