"data-auto-format="rspv" data-full-width>
Categories: History

Jejak Kejayaan Suku Bugis di Singapura (Part I)

"data-auto-format="rspv" data-full-width>
"data-auto-format="rspv" data-full-width>

reportasependidikan.com — Dari sekian banyak suku yang membentuk orang Melayu Singapura, ternyata Bugis dianggap paling besar pengaruhnya. Wajarlah jika pemerintah Negara Pulau itu mengabadikan etnis Bugis sebagai nama distrik penting di Negeri Jiran itu yakni “Bugis Street”. Ini mengindikasikan ada sejarah dimana orang Bugis pernah berkembang pesat di Singapura.

Bukan hanya nama Bugis, kawasan lain yang juga diambil dari Bugis adalah Sengkang. Di Singapura terdapat distrik Sengkang. Nama distrik itu diambil dari nama kota di Sulsel, ibu kota Kabupaten Wajo yang merupakan salah satu daerah asal perantau-perantau Bugis di Tanah Melayu. Saat ini, kawasan Sengkang sudah menjadi bagian dari modernisasi Singapura.

Di kawasan Sengkang, berdiri Markas Besar Kepolisian Singapura, kantor-kantor pemerintahan, sekolah, hingga kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan.

Suku Bugis Dan Berdirinya Singapura 

Di Singapura dan Johor, keturunan Bugis sangat dihormati sebagai keturunan bangsawan. Apalagi dalam sejarah Melayu, 9 dari 13 kerajaan dan kesultanan di Malaysia adalah keturunan raja-raja Bugis, termasuk kerajaan terbesarnya, Selangor, hingga Yang Dipertuan Agung (Raja Malaysia), yang dijabat secara bergantian oleh raja-raja dari negara bagian di Malaysia.

Kejayaan Bugis yang berbaur sebagai orang Melayu itu pun, berpengaruh sampai ke Singapura. Perkembangan Singapura yang tidak lepas dari pengaruh saudagar Bugis sehingga Negara Kepulauan itu, tetap mengenang jasa-jasa saudagar Bugis.

Seperti di kutip dalam buku Christian Pelras, Manusia Bugis. Di bagian agak akhir buku setebal 449 halaman itu, ada penjelasan soal pedagang Bugis pada abad ke-19 dan berdirinya Singapura. Pelras mengemukakan pedagang-pedagang Bugis membangun jaringan perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan nusantara.

Nah, pelabuhan paling penting disebut entrepot (pusat niaga pantai) di Kepulauan Riau. Di situ, orang Bugis melakukan perdagangan secara bebas tanpa campur Belanda.

Pelras, yang mengutip penulis bernama Philip Curtin, mengatakan, pedagang Bugis segera menyangi pedagang Belanda di Malaka. Kata Pelras, pedagang Belanda menerapkan kebijakan jangka panjang unit profit (laba per barang) tinggi. Akibatnya, penjualannya rendah. Sedangkan pedagang Bugis membuka Riau buat semua pedagang. Jadinya, bukan cuma pedagang bugis dan makassar yang datang, tetapi juga pedagang Tionghoa, Inggris, Thailand, dan Jawa.

Riau berkembang menjadi pelabuhan penting dalam jalur perdagangan yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa serta Samudera Hindia.

Pada saat Belanda menduduki Riau tahun 1784 motif utamanya adalah menyingkirkan pedagang Bugis. Pedagang bugis dihambat dan dihalang-halangi dengan berbagai peraturan yang dipaksa oleh Belanda. Belanda ingin melindungi kepentingan perdagangannya.

Begitu kekuasaan di Riau beralih ke Inggris, orang-orang Bugis diuntungkan. Orang Bugis punya kepentingan dagang yang sama dengan Inggris. Akhirnya, ketika Belanda mengusai kembali Riau pada 1819, pedagang-pedagang Bugis memilih menyingkir. Pindahlah mereka secara besar-besaran ke Singapura.

Raffles, yang diangkat sebagai Wakil Gubernur Inggris di Bengkulu pada 1818, mulai melirik Singapura sebagai pos dagang. Menurut Pelras, kehadiran pedagang Bugis di Singapura mungkin menjadi salah satu pertimbangan Raffles. Sebab, sebelumnya Raffles mengincar Pulau Karimun.

Pintu perdagangan baru dibuka. Populasi orang Bugis di Singapura bertambah. Pada 1824, populasi orang Bugis yang bermukim di kampong Glam mencapai 1.851 orang dari total penduduk sebesar 10.683 orang. Singapura tumbuh menjadi emporium (pusat perniagaan umum) baru.

Di sana, perdagangan bebas cukai. Konon, harga barang disana 50% lebih murah dibanding dengan harga barang di Batavia. Singapura berkembang pesat. Seiring dengan itu, kedatangan orang Bugis ke Singapura terus berlangsung.

Misalnya, pada tahun 1824, 90 perahu orang Bugis Wajo datang ke Singapura. Tahun berikutnya, 1825, ada 120 perahu yang menyebrang ke Singapura.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, pedagang-pedagang Bugis punya kontribusi besar dalam membuka Singapura sebagai pusat dagang. Dan, karena aktivitas perdagangan yang dirintis orang Bugis itu, Raffles menunjuk Singapura sebagai pos dagang dan pemukiman orang Inggris.

Bersambung part II

 

(Sumber: jurnalite.com)

Recent Posts

SDI Kassi-Kassi Beri Bantuan Korban Kebakaran di Jalan Toddopuli

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Inpres Kassi-Kassi kecamatan Rappocini kota Makassar menyalurkan bantuan untuk  korban kebakaran yang terjadi di…

2 hari ago

KKG Gugus IV Merah Putih Kec. Manggala Gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Profesional Guru

REPORTASE PENDIDIKAN - Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus IV Merah Putih kecamatan Manggala kota Makassar menggelar workshop  Peningkatan Kompetensi Profesional Guru dengan…

2 hari ago

K3S Kec. Tallo Gelar Pengimbasan Program Digitalisasi Pembelajaran

REPORTASE PENDIDIKAN- Pengimbasan Program Digitalisasi Pembelajaran digelar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) kecamatan Tallo di UPTD SPF SD Inpres Kaluku Bodoa,…

5 hari ago

Semarakkan Semangat Pramuka! SDN Pongtiku 2 Gelar Nobar Film Pramuka di Cinepolis Phinisi Point Mall Makassar

MAKASSAR, 27 Agustus 2026 – Suasana penuh sukacita dan semangat kebersamaan terlihat jelas saat seluruh siswa beserta dewan guru dan…

6 hari ago

SDI Galangan Kapal II Atasi Sampah di Sekolah dengan Inovasi Bascer

REPORTASE PENDIDIKAN - UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal II kecamatan Tallo kota Makassar membuat sebuah inovasi yang diberi nama Bascer…

1 minggu ago

SDN Bawakaraeng I Raih Runner-up Turnamen Sepak Bola Antar Pelajar DISPORA 2026

REPORTASE PENDIDIKAN - Tim sepak bola UPTD SPF SDN Bawakaraeng 1 sukses menorehkan prestasi gemilang dengan keluar sebagai runner-up dalam Turnamen…

1 minggu ago
"data-auto-format="rspv" data-full-width>

This website uses cookies.